BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

April 12, 2011

Positivism Behind Pessimism

There's always one moment in everyone's life di mana kita harus milih antara loving ourselves to the fullest atau choose not to be selfish dan ngebagi our only own selves dengan orang lain. And when this happens, People, bagi gw rasanya kaya disuruh milih antara makan daging sepuasnya, atau dapet free pass nonton any kind of festival movie di bioskop, atau special spot nonton full jazz/bossa concert. How in the world can I possibly decide?

Well anyhow, I just found out kalo orang udah sering jatoh, lama kelamaan pasti either jadi makin strong, atau pessimistic, atau cynical, atau just plain ignorant. Buruk? Nggak juga. Menurut gw, people need to be more ignorant and pay less attention to petty stuffs. Karena semakin banyak kita tau tentang banyak hal, semakin depressed kita jadinya. Yang ada ujung-ujungnya kebanyakan mikir "should've/would've/what-ifs", dan yang ada otak makin scattered. I also think that harusnya falling in love itu jadi luxury tiap orang, bukan accident yang ironisnya, dirayain. Regardless the fact bahwa love emang literally feels gleeful, harusnya itu sifatnya precious, bukan accidental dan spontaneous. You fall in love because you choose to do so, you let yourself to do so, bukannya nerima kenyataan bahwa falling in love itu tiba-tiba dan terus pasrah.

I know some people who have been in love dan nggak well prepared akan hal itu (*ahem*), and they ended up helplessly screwed over. Do fall in love when you're ready, not when you're lonely, indeed. And lately gw mulai sadar pentingnya standarisasi/kualifikasi pasangan ideal bagi diri masing-masing. No, I'm not talking about perfection or anything that comes nearer to it (karena as far as I know, yang paling deket sama perfection itu arrogance dan plain naivety). I'm talking about apa yang harusnya kita cari di orang lain, kualitas-kualitas yang mau kita liat, rasain, pelajarin dari orang lain. Example, gw suka laki-laki (I'm not a lesbian, if any of you wonder) yang artsy, pinter, humoris, dan ramah. I don't ask for good finance to come altogether with those all, karena toh uang gainable kalo lo udah punya self-quality yang emang promising. Tapi, masalahnya, emang ada manusia yang kaya gitu? EMANG ADA???

Well, there is. There are some, in fact, somewhere out there. But then again, they don't belong in my life, ever. Images tentang orang-orang bertipe kaya gitu paling perfect kalo hidup di dalem bayangan gw aja. Bagus sih, karena kalo setiap manusia bisa ngedapetin orang sesuai dengan tipe idamannya masing-masing, kebayang ngga sih kita semua jadi se-obsessive dan possessive apa? Well the point is, standarisasi/kualifikasi tipe pasangan itu penting untuk dijadiin bahan acuan.

But there's a but. A big fat BUT. Setelah sekian lama kita hidup di dalam semua naivety itu, akan ada saatnya di mana kita ketemu orang yang sangat jauh dari apa yang selama kita ini aimed for. And when that happens, you can only do one thing : ADJUST. Deal with every meagre fact bahwa things always go wrong, in a way.

Either lo jomblo, a romantic lover, a single yang sok kuat, a devastated ex-lover, helplessly devoted to a stranger u barely know of, or merely happy in whatever circumstance, inget bahwa pessimism ngga selalu buruk. Pessimism is underrated. At least it teaches you to anticipate dan ngga bergantung sama safety net terus. Man up. Safety net pun ngga sekuat itu juga kok, it still has a lot of holes on it.

Just like every attempt and hope u've ever built in ur life, every disappointment is worth the wait and try kok. Sekalinya kita udah dikecewain (akan standarisasi/kualifikasi yang ngga pernah terpenuhi, atau apapun), we'd grow not only stronger, but also more cautious and independent. You've got nothing to lose. Kalo toh kita kehilangan sesuatu pada akhirnya, toh nanti akan ada substitute yang ngisi spot yang kosong itu. Trust me. God never fail managing any thing kok.

1 blah(s):

farhanah said...

Nyaris lupa asiknya blogwalking.. dan jadi inget krn baca blog lo!
And yeah, absolutely, pessimism is underrated! XD